
Hidup serba terbatas, tetapi punya mimpi tak terbatas. Dengan segala keterbatasan, Mundakir kecil ogah putus sekolah. Lahir di Gendong Kulon, Babat, Lamongan, Mundakir kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Tardji, bekerja sebagai buruh serabutan di sawah orang, sementara ibunya, almarhumah Mundari, berdagang buah di pasar. Anak ketiga dari lima bersaudara ini rela belajar dalam kondisi apapun saat kecil. “Dulu masa kecil saya itu susah betul. Untuk bisa baca buku, saya baca buku bekas, pakai lampu ublik. Belajarnya sambil angon sapi, bawa buku ke pekarangan,” kenangnya, dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu, (6/5/2026). Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah dijangkau. Meski hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, sang ayah memiliki kesadaran kuat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
Sekolah pun bukan perkara ringan. Ia harus berjalan kaki sejauh dua kilometer setiap hari karena tidak memiliki sepeda. Namun bagi Mundakir kecil, sekolah bukan beban melainkan kebutuhan yang tak bisa ditawar. “Saking senangnya saya sekolah, kalau tidak disekolahkan saya mau pergi dari rumah,” kenang dia sambil tertawa. Siapa sangka, usahanya kini justru mengantarkannya menjadi guru besar bidang keperawatan yang baru saja dikukuhkan tahun ini. Baca juga: “Saya Cita-citanya Mau Jadi Polisi, Mau Bantu Amanin Negara” Ikut program transmigrasi, pernah kerja kasar di Riau Perjalanan hidup Mundakir tidak selalu lurus. Pada 1980-an, keluarganya sempat mengikuti program transmigrasi pemerintah ke Riau, sebuah upaya memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun dua tahun berselang, mereka kembali ke Jawa karena tidak betah. Kehidupan yang keras membuat Mundakir terbiasa bekerja sejak muda. Ia tidak memilih pekerjaan apa saja dijalani demi bertahan dan membantu keluarga. “Pekerjaan kasar sudah pernah saya lakukan. Jadi kuli di rel kereta, di pabrik kayu, kerja di salon ikut orang, sampai bantu tengkulak semangka,” tuturnya. Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk daya juang dan ketangguhan mentalnya sesuatu yang menjadi fondasi kuat dalam perjalanan akademiknya. Baca juga: Kisah Ory, Guru yang Mengajar Pakai AI dan Pernah Cegah Pernikahan Dini Siswa SD Ingin jadi guru agama, malah fokus bidang keperawatan Mundakir menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Gendongkulon, lulus pada 1987. Ia melanjutkan ke MTsN 1 Babat (1990) dan SMA Muhammadiyah 1 Babat (1993). Semasa SMA, ia sempat bercita-cita menjadi guru agama. Namun jalan hidup membawanya ke dunia kesehatan.
Ia memutuskan kuliah jenjang Diploma III Keperawatan di Akper Universitas Muhammadiyah Surabaya (1998).
Perjalanan akademiknya berlanjut ke jenjang sarjana di Universitas Airlangga (2003), kemudian meraih gelar magister di Universitas Indonesia (2009), hingga akhirnya menyelesaikan doktoral di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga pada 2017. Langkah-langkah ini bukan sekadar jenjang pendidikan, melainkan bukti konsistensi dalam mengejar ilmu di tengah berbagai keterbatasan. Karier akademik Mundakir berkembang seiring dengan kiprah kepemimpinannya. Ia pernah menjabat Ketua Program Studi S1 Keperawatan (2009–2013), Wakil Dekan I (2013–2017), hingga Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (2017–2021). Kepercayaan terus mengalir. Ia kemudian menjadi Wakil Rektor Bidang Kerjasama, AIK, dan Digitalisasi (2021–2024), hingga kini menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya. Di luar kampus, perannya juga signifikan. Ia pernah memimpin Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Jawa Timur, aktif di Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), serta memegang sejumlah posisi strategis di organisasi profesi dan pendidikan keperawatan nasional. Jejaring internasional pun ia bangun, termasuk melalui program di Australia dan pelatihan di Singapura, serta keterlibatan dalam komunitas ilmiah global seperti Council of Asian Science Editors dan International Society for Quality in Health Care. Rupiah, Risiko, dan Ingatan 1998 Artikel Kompas.id Sebagai akademisi, Mundakir dikenal produktif. Karya-karyanya berfokus pada isu kesehatan jiwa, beban psikologis. Serta ketahanan individu dan keluarga tema yang semakin relevan di tengah kompleksitas kehidupan modern. Ia telah menulis berbagai buku ajar, di antaranya komunikasi pelayanan kesehatan, keperawatan jiwa, keperawatan psikososial, hingga pendekatan keperawatan holistik berbasis modelling-role modelling. Kontribusi ilmiahnya tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga berdampak pada praktik keperawatan dan pengembangan sistem layanan kesehatan. Hal ini sejalan dengan kepakarannya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat. Meski kini Mundakir berdiri bukan lagi sebagai anak buruh serabutan dari desa kecil. Ia berdiri sebagai seorang profesor. Kisahnya menjadi penegasan bahwa latar belakang bukanlah batas.




