
| SOAL 1 | |
| Perhatikan kutipan teks editorial berikut dengan cermat!
“Lonceng kematian bagi pekerjaan manual mulai berbunyi seiring masifnya integritas kecerdasan buatan (AI) di sektor industri. Bagi lulusan SMK, fenomena ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, otomatis menjanjikan efisiensi tinggi bagi pemilik modal, namun di sisi lain, ia mengancam posisi operator mesin konvensional. Data menunjukkan bahwa 35%tugas teknis yang selama ini dikerjakan oleh manusia kini dapat diambil alih oleh sistem pintar. Pertanyaannya, apakah kurikulum kita sudah cukup tanggap mengubah ‘operator mesin’ menjadi analis dan pemeliharaan sistem? Tanpa pergeseran paradigma dari sekadar penguasa alat menjadi penguasa logika sistem, lulusan vokasi hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri.”
Soal: Berdasarkan kutipan teks editorial tersebut, manakah argumen yang paling kuat mendukung keberpihakan penulis terhadap perlunya perubahan kurikulum di SMK? A. Kecerdasan buatan (AI) telah menyebabkan 35% lulusan SMK kehilangan pekerjaan manual mereka di sektor industri manufaktur B. Kurikulum SMK saat ini dianggap gagal total karena masih fokus pada penggunaan mesin konvensional daripada sistem digital. C. Otomasi industri adalah ancaman nyata yang pasti akan menggantikan seluruh peran manusia dalam proses produksi di masa depan. D. Adanya kesenjangan antara kemampuan teknis tradisional yang diajarkan dengan kebutuhan industri akan tenaga kerja yang mampu mengelola logika sistem. E. Pemilik modal lebih memilih investasi pada kecerdasan buatan daripada memberikan pelatihan ualng kepada tenaga kerja lokal.
|
|
| SOAL 2 | |
|
Cermatilah berita berikut ini untuk menjawab soal nomor 3! Paragraf 1: Pihak keluarga Juliana juga sudah mengajukan proses otopsi ulang setelah jenazah Juliana tiba di Brasil pada 1 Juli lalu. Otopsi pun langsung digelar pada hari yang sama di Institut Medis Legal (IML) Rio de Janeiro untuk mencari tahu penyebab dan waktu kematian Juliana. Menurut DPU, pemeriksaan ulang tersebut sangat penting untuk mengklarifikasi dugaan bahwa Juliana mungkin tidak mendapatkan pertolongan memadai setelah kecelakaan terjadi. “Otopsi kedua ini adalah permintaan dari keluarga. Kami akan mendampingi mereka sesuai hasil laporan dan keputusan yang akan diambil,” ujar Taisa. Paragraf 2: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan, Indonesia akan bertanggung jawab jika Brasil melayangkan gugatan atas kasus kematian Juliana Marins. “Kalau memang betul (ada gugatan), saya belum cek ya, apakah memang ada tuntutan hukum, ya tentu itu sebagai hak, ya. Dan kita akan coba pertanggungjawabkan dengan apa yang memang kita lakukan,” kata Raja Juli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7/2025). Ia pun mengucapkan duka cita yang mendalam atas kejadian tersebut. Paragraf 3: Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Yarman, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan yang terbaik dalam proses evakuasi. Yarman menjelaskan bahwa tim evakuasi SAR gabungan telah berusaha maksimal mengangkat jenazah Juliana dari kedalaman 600 meter di Gunung Rinjani. Pertanyaan: Berdasarkan teks berita di atas, tentukan semua pernyataan yang secara tepat menjelaskan hubungan makna antarparagraf dalam teks! (Pilihlah lebih dari satu jawaban yang benar) · [ ] A. Paragraf kedua menunjukkan bentuk respons/sikap pemerintah Indonesia terhadap potensi aksi hukum yang melatarbelakangi tindakan keluarga korban pada paragraf pertama. · [ ] B. Paragraf ketiga menyajikan bukti serta sanggahan resmi atas tuduhan kelalaian pertolongan yang dipertanyakan pihak keluarga pada paragraf pertama. · [ ] C. Paragraf pertama dan kedua memiliki hubungan pertentangan (kontras) mengenai sah atau tidaknya pelaksanaan otopsi ulang di Brasil. · [ ] D. Paragraf ketiga berfungsi memberikan penjelasan pendukung teknis di lapangan yang memperkuat kesiapan tanggung jawab pejabat pada paragraf kedua. · [ ] E. Paragraf kedua merupakan korelasi sebab-akibat langsung dari kegagalan proses evakuasi yang dijelaskan pada paragraf ketiga.
|
|
| SOAL 3 | |
| Bacalah teks berikut dengan saksama!
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Saat ini, internet digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan komunikasi. Dalam bidang pendidikan, peserta didik dapat mengakses informasi melalui berbagai platform pembelajaran. Guru juga dapat menggunakan aplikasi untuk menyampaikan materi dan memberikan evaluasi kepada peserta didik.
Dalam bidang ekonomi, teknologi membantu pelaku usaha memasarkan produk melalui media sosial dan marketplace. Konsumen tidak perlu datang langsung ke toko karena transaksi dapat dilakukan secara daring. Sistem pembayaran digital juga semakin populer karena dianggap praktis dan efisien. Sementara itu, dalam bidang kesehatan, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kesehatan melalui berbagai situs dan aplikasi. Beberapa rumah sakit bahkan menyediakan layanan konsultasi secara online. Selain kata-kata yang berasal dari bahasa asing, bahasa Indonesia juga menyerap kata dari bahasa daerah. Kata-kata tersebut digunakan karena memiliki makna yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi masyarakat. Penggunaan kata serapan memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan membuat bahasa Indonesia mampu mengikuti perkembangan zaman. Meskipun demikian, penggunaan kata serapan harus disesuaikan dengan konteks dan kaidah bahasa Indonesia agar komunikasi tetap efektif dan mudah dipahami.
Kelompok kata yang merupakan kata serapan dari bahasa asing adalah … A. informasi, teknologi, aplikasi, transaksi. |
|
| SOAL 4 | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bacalah teks berikut!Kampung Ketupat dan Tradisi Masyarakat Sungai Baru
Kampung Ketupat merupakan salah satu kampung tematik di Kelurahan Sungai Baru, Kota Banjarmasin. Kampung ini dikenal sebagai kawasan masyarakat yang memproduksi ketupat secara rutin. Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari sehingga berbeda dari kebiasaan masyarakat yang umumnya membuat ketupat menjelang hari raya. Aktivitas warga menjadikan kampung ini memiliki ciri khas yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Di kawasan tersebut, warga tidak hanya membuat ketupat untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memperkenalkan proses pembuatannya kepada pengunjung. Wisatawan dapat melihat cara menganyam urung ketupat dan mencoba membuatnya secara langsung. Kegiatan ini memberikan pengalaman kepada pengunjung untuk mengenal keterampilan tradisional masyarakat.
Suasana kampung juga semakin menarik karena terdapat berbagai kegiatan budaya. Beberapa di antaranya adalah permainan tradisional, seperti gasing dan bakiak, serta kegiatan Baayun Maulid, Maulid Habsyi, dan silat. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, tetapi juga dengan pemeliharaan budaya lokal.
Keberadaan Kampung Ketupat memperlihatkan adanya fenomena pelestarian budaya melalui kegiatan masyarakat. Tradisi membuat ketupat yang dilakukan secara rutin menjadi bagian dari identitas kampung. Selain itu, kegiatan wisata memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenalkan budaya lokal kepada orang dari luar daerah. Dengan demikian, kegiatan ekonomi, wisata, dan budaya dapat berjalan berdampingan. Diadaptasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Desa Wisata Kampung Ketupat Banjarmasin. Tentukan kategori yang tepat untuk setiap pernyataan berikut!
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| SOAL 5 | |
| Teks untuk soal no. 3 dan 4.
Bacalah teks berikut dengan cermat! Tradisi Mappalette Bola di Masyarakat Bugis
Mappalette Bola merupakan salah satu tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan yang dilakukan ketika sebuah rumah akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tradisi ini dilakukan secara bersama-sama oleh warga dengan mengangkat rumah panggung menggunakan tenaga manusia. Bagi masyarakat Bugis, kegiatan tersebut bukan sekadar memindahkan bangunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antartetangga.
Sebelum pemindahan dilakukan, pemilik rumah biasanya berkomunikasi dengan keluarga dan warga sekitar untuk menentukan waktu yang dianggap sesuai. Pada hari pelaksanaan, puluhan orang berkumpul di sekitar rumah. Mereka bekerja secara terkoordinasi agar rumah dapat dipindahkan dengan aman. Sebagian warga bertugas mengangkat dan membawa rumah, sementara yang lain membantu mengatur jalur yang akan dilalui. Setelah rumah berhasil dipindahkan, kegiatan sering dilanjutkan dengan makan bersama.
Di tengah perkembangan masyarakat modern, pelaksanaan mappalette bola menghadapi tantangan. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi membuat hubungan antarwarga tidak selalu sedekat dahulu. Selain itu, pembangunan rumah permanen dengan struktur yang sulit dipindahkan menyebabkan tradisi tersebut semakin jarang dilakukan. Meskipun demikian, masyarakat masih berusaha mempertahankan makna kebersamaan dalam tradisi tersebut melalui berbagai kegiatan gotong royong (Diadaptasi dari RRI – “Tradisi Mappalette Bola Masyarakat Bugis) Kesimpulan yang paling tepat berdasarkan teks tersebut adalah … A. mappalette bola terutama bertujuan memindahkan rumah secara cepat dan aman. |
|
| SOAL 6 | |||||||||||||||||||||
Berdasarkan teks “Tradisi Mappalette Bola di Masyarakat Bugis”, tentukan apakah setiap pernyataan berikut benar atau salah!
|
|||||||||||||||||||||
| SOAL 7 | |
Bacalah teks berikut!Kotak Kayu di Bawah Tempat Tidur Sejak neneknya meninggal, Dira sering merapikan kamar lama yang dahulu digunakan nenek. Ia menemukan banyak benda sederhana, seperti kain rajut, buku resep, dan beberapa foto keluarga. Di antara benda-benda itu terdapat sebuah kotak kayu kecil yang selalu membuatnya penasaran. Kotak tersebut terkunci, tetapi Dira tidak menemukan kuncinya. Suatu sore, ketika membersihkan lemari, Dira menemukan sebuah kunci kecil terselip di antara halaman buku. Ia segera mencoba kunci itu pada kotak kayu. Ketika terbuka, Dira menemukan beberapa lembar surat yang ditulis neneknya bertahun-tahun lalu. Surat-surat itu ditujukan kepada ibu Dira, tetapi tidak pernah dikirimkan. Dira membaca salah satu surat dengan hati-hati. Nenek menulis tentang keinginannya meminta maaf kepada ibu karena dahulu terlalu keras ketika menentukan pilihan sekolah. Nenek juga mengakui bahwa dirinya sering menyembunyikan rasa khawatir dengan cara memarahi orang yang disayanginya. Dira kemudian memahami mengapa ibu selalu tampak diam ketika membicarakan masa sekolahnya. Malam itu, Dira membawa surat-surat tersebut kepada ibunya. Ibu membacanya dalam diam. Beberapa saat kemudian, matanya berkaca-kaca. Ia mengatakan bahwa selama ini ia mengira nenek tidak pernah memahami perasaannya. Surat itu membuatnya menyadari bahwa kasih sayang kadang-kadang hadir dengan cara yang sulit dipahami. Sejak saat itu, ibu mulai lebih sering bercerita tentang nenek. Dira pun menyadari bahwa benda lama tidak selalu hanya menyimpan kenangan. Kadang-kadang, benda tersebut menyimpan kesempatan untuk memahami kembali seseorang dan memperbaiki hubungan yang pernah terasa jauh. Hubungan makna antara paragraf ketiga dan paragraf keempat dalam teks tersebut adalah … A. paragraf ketiga menjelaskan penyebab Dira menemukan surat, sedangkan paragraf keempat menjelaskan alasan surat tersebut disimpan oleh nenek. B. paragraf ketiga menggambarkan pemahaman Dira terhadap masa lalu, sedangkan paragraf keempat menunjukkan dampak pemahaman tersebut terhadap perasaan ibunya. C. paragraf ketiga menunjukkan pertentangan antara Dira dan ibunya, sedangkan paragraf keempat menggambarkan penyelesaian pertentangan tersebut. D. paragraf ketiga menjelaskan hubungan buruk antara nenek dan ibu, sedangkan paragraf keempat membuktikan bahwa hubungan keduanya tidak pernah bermasalah. E. paragraf ketiga menggambarkan peristiwa yang dialami ibu, sedangkan paragraf keempat menceritakan pengalaman Dira setelah membaca surat. |
|
| SOAL 8 | |
| Sejak kecil, aku senang menghabiskan waktu di rumah nenek. Setiap liburan sekolah, aku selalu membantu beliau merawat kebun kecil di belakang rumah. Di sana tumbuh berbagai tanaman, tetapi yang paling kusukai adalah pohon mangga tua di dekat pagar. Nenek mengatakan bahwa pohon itu ditanam oleh kakek ketika mereka baru pindah ke rumah tersebut.
Tahun ini, aku kembali mengunjungi nenek setelah beberapa bulan tidak bertemu. Saat tiba, aku merasa ada yang berbeda. Kebun terlihat lebih sepi dan beberapa tanaman mulai mengering. Nenek mengatakan bahwa ia sudah tidak sanggup merawat semuanya sendirian. Aku menawarkan diri untuk membantunya selama liburan.
Keesokan paginya, ketika sedang membersihkan daun-daun kering, aku melihat sebuah papan kayu kecil tergeletak di bawah pohon mangga. Pada papan itu terdapat tulisan yang hampir pudar: “Untuk siapa pun yang masih menjaga kebun ini, jangan biarkan pohon ini kehilangan rumahnya.”
Aku menunjukkan papan tersebut kepada nenek. Ia tersenyum, tetapi matanya tampak berkaca-kaca. Nenek kemudian bercerita bahwa kakek pernah berpesan agar pohon mangga itu tetap dirawat meskipun suatu hari mereka tidak lagi tinggal di rumah tersebut. Sore harinya, nenek mengajakku duduk di teras. Ia mengatakan bahwa mungkin sudah waktunya membuat keputusan tentang rumah dan kebun itu. Aku memandang pohon mangga yang mulai berbuah. Tiba-tiba aku teringat pesan pada papan kayu tadi. Aku belum tahu keputusan apa yang akan diambil nenek, tetapi aku merasa pohon itu seolah-olah sedang menunggu sesuatu.
Kelanjutan cerita yang paling logis adalah … A. Aku mengusulkan kepada nenek untuk tetap mempertahankan rumah dan kebun serta merawatnya bersama-sama. B. Nenek memutuskan menjual rumah tanpa mempertimbangkan pesan kakek karena pohon mangga sudah tidak menghasilkan buah. C. Aku dan nenek mulai mencari cara agar kebun tetap terawat, meskipun nantinya rumah tersebut tidak lagi ditempati. D. Aku menyadari bahwa pesan pada papan kayu menjadi pertimbangan penting dalam keputusan tentang masa depan rumah dan kebun. E. Aku menebang pohon mangga karena menganggap pohon tersebut menjadi penyebab kebun terlihat tidak terawat.
|
|
| SOAL 9 | |
Bacalah teks berikut!Bahasa Daerah di Tengah Perubahan Zaman Bahasa daerah merupakan salah satu unsur penting dalam kebudayaan Indonesia. Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan komunikasi, tetapi juga dengan identitas, pengetahuan, tradisi lisan, dan cara pandang masyarakat. Karena itu, perubahan penggunaan bahasa daerah perlu dipahami sebagai bagian dari perubahan kebudayaan yang berlangsung secara alami. Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia serta bahasa asing dalam berbagai ruang komunikasi membuat sebagian bahasa daerah menghadapi tantangan. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti bahwa semua bahasa daerah akan kehilangan penuturnya. Tingkat keberlangsungan suatu bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain jumlah penutur, pola pewarisan antargenerasi, sikap masyarakat, serta dukungan terhadap penggunaan bahasa tersebut. Data kajian vitalitas bahasa yang dirilis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa kondisi bahasa daerah di Indonesia beragam. Sebagian bahasa berada dalam kondisi rentan, sebagian mengalami kemunduran, dan sebagian lainnya berada pada tingkat yang lebih mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, upaya pelindungan bahasa tidak cukup dilakukan dengan mengajak masyarakat menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Dokumentasi, pendidikan, revitalisasi, serta penciptaan ruang penggunaan bahasa dalam kehidupan modern juga diperlukan. Dengan demikian, anggapan bahwa kemajuan teknologi pasti menyebabkan bahasa daerah punah merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Teknologi memang dapat mempercepat perubahan pola komunikasi, tetapi teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana dokumentasi, pembelajaran, dan pengembangan bahasa daerah. Tantangannya adalah memastikan bahwa pemanfaatan teknologi tetap melibatkan masyarakat penutur sebagai pemilik dan pewaris kebudayaan tersebut. (Diadaptasi dari Hurip Danu Ismadi, Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah dalam Perubahan Kebudayaan Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022). Penilaian yang paling tepat terhadap informasi yang disajikan adalah … A. informasi dalam teks kurang akurat karena perkembangan teknologi terbukti menjadi penyebab utama kepunahan seluruh bahasa daerah di Indonesia. B. informasi dalam teks cukup akurat karena menghubungkan perubahan bahasa dengan perkembangan zaman, tetapi kurang tepat karena menyatakan bahwa semua bahasa daerah mengalami kemunduran. C. informasi dalam teks akurat dan cukup memadai karena tidak menyederhanakan hubungan teknologi dengan keberlangsungan bahasa serta menunjukkan perlunya berbagai bentuk pelindungan. D. informasi dalam teks tidak memadai karena hanya membahas bahasa daerah, padahal kebudayaan Indonesia juga mencakup seni, adat istiadat, dan permainan tradisional. E. informasi dalam teks kurang sesuai karena penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing seharusnya dipandang sebagai ancaman yang harus dihentikan untuk mempertahankan bahasa daerah. |
|
| SOAL 10 | ||
|
Untuk soal nomor 1-2. Bacalah puisi beikut dengan cematt! Jejak Jejak kaki di pasir pantai Terhapus pelan oleh ombak pagi, Seperti kenangan yang datang dan pergi Dalam riak hidup yang sunyi. Aku menatap garis laut di kejauhan, sebuah batas antara dulu dan nanti. Ada yang tertinggal di belakang namun tak semuanya harus kembali Sumber: R. Fadillah (2022) Pengimajian yang dominan dalam larik “jejak kaki di pasir pantai” adalah…. A. pendengaran B. Penciuman C. penglihatan D. Perabaaan E. Pengecap
|
||
| KUNCI
JAWABAN |
||
| SOAL 11 | |
| Bacalah puisi beikut dengan cematt!
Jejak Jejak kaki di pasir pantai Terhapus pelan oleh ombak pagi, Seperti kenangan yang datang dan pergi Dalam riak hidup yang sunyi. Aku menatap garis laut di kejauhan, sebuah batas antara dulu dan nanti. Ada yang tertinggal di belakang namun tak semuanya harus kembali Sumber: R. Fadillah (2022) Hal yang ingin disampaikan penyair dalam puisi tersebut adalah…. A. Masa lalu harus diulang agar tidak menyesal B. Semua kenangan harus disimpan selamanya C. Kehidupan akan menjadi lebih baik jika kembali ke masa lalu D. Beberapa hal memang harus ditinggalkan tak perlu dihadirkan lagi E. Tidak semua kenangan harus dilupakan
|
|
| SOAL 12 | |
| Bacalah teks informasi berikut!
Gula stevia berasal dari tanaman stevia rebaudiana yang ditemukan oleh ahli botani bernama Antonio Bertoni pada 1887. Sejak itu, stevia digunakan oleh masyarakat di Paraguay dan Brazil sebagai pemanis buatan.Di dalam daun stevia mengandung senyawa bercita rasa manis, yaitu stevioside dan rebaudioside. Rasa manisnya diklaim ratusan kali lipat lebih tinggi daripada gula biasa.Karena rasanya yang sangat manis, penggunaan gula stevia tidak sebanyak gula pasir.Cara tersebut menyumbang lebih sedikit kalori dalam tubuh sehingga tidak berdampak pada berat badan secara signifikan. Gula stevia lebih rendah kalori ketimbang gula biasa. Gula dari tanaman Stevia rebaudiana ini juga tidak mengandung karbohidrat sehingga baik dikonsumsi pengidap diabetes.Karbohidrat bisa memicu kenaikan glukosa atau kadar gula darah secara signifikan.Itu sebabnya, pengidap diabetes disarankan untuk mengurangi asupan karbohidrat untuk menstabilkan kadar gula darah.Alasan lainnya, gula stevia efektif menurunkan indeks glikemik (GI) makanan.GI merupakan indikator seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh.Dengan GI yang rendah, artinya, stevia berdampak pada penurunan kadar gula darah dalam tubuh, meski dalam tingkatan rendah.Sederhananya, mengonsumsi gula stevia lebih menyehatkan ketimbang gula biasa. Stevia bisa digunakan sebagai pengganti gula biasa untuk masakan rumahan dan kue. Namun, jika gula jenis ini tidak dimasak dengan cara yang tepat, stevia bisa menimbulkan rasa pahit.Ketika mengganti gula biasa dengan stevia, makanan yang diolah dengan cara dipanggang tidak memiliki rasa dan tekstur yang sama dibanding menggunakan gula biasa.Sebab, stevia mengalami proses reaksi yang memicu terjadinya perubahan warna jadi cokelat keemasan dan sedikit rasa pahit. Stevia juga menambah tekstur makanan yang dipanggang menjadi lebih keras.Terlepas dari itu, stevia bisa bekerja dengan baik sebagai pengganti gula.Untuk meminimalisir rasa pahit yang ditimbulkan stevia, kamu bisa menggunakan campuran gula biasa berskala 1:1. Sumber : halodoc.com/artikel Ide pokok paragraf kedua teks tersebut adalah A. Stevia harus dimasak dengan cara yang tepat agar tidak mengubah rasa dan tekstur B. Stevia ditemukan oleh ahli bernama Antonio Bertoni pada 1887 C. Stevia memiliki rasa lebih manis dibandingkan gula biasa D. Stevia memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan gula biasa E. Stevia dapat dicampur gula biasa dalam penggunanaannya
|
|
| SOAL 13 | |
| Bacalah teks informasi berikut!
Gula stevia berasal dari tanaman stevia rebaudiana yang ditemukan oleh ahli botani bernama Antonio Bertoni pada 1887. Sejak itu, stevia digunakan oleh masyarakat di Paraguay dan Brazil sebagai pemanis buatan.Di dalam daun stevia mengandung senyawa bercita rasa manis, yaitu stevioside dan rebaudioside. Rasa manisnya diklaim ratusan kali lipat lebih tinggi daripada gula biasa.Karena rasanya yang sangat manis, penggunaan gula stevia tidak sebanyak gula pasir.Cara tersebut menyumbang lebih sedikit kalori dalam tubuh sehingga tidak berdampak pada berat badan secara signifikan. Gula stevia lebih rendah kalori ketimbang gula biasa. Gula dari tanaman Stevia rebaudiana ini juga tidak mengandung karbohidrat sehingga baik dikonsumsi pengidap diabetes.Karbohidrat bisa memicu kenaikan glukosa atau kadar gula darah secara signifikan. Itu sebabnya, pengidap diabetes disarankan untuk mengurangi asupan karbohidrat untuk menstabilkan kadar gula darah.Alasan lainnya, gula stevia efektif menurunkan indeks glikemik (GI) makanan.GI merupakan indikator seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh.Dengan GI yang rendah, artinya, stevia berdampak pada penurunan kadar gula darah dalam tubuh, meski dalam tingkatan rendah.Sederhananya, mengonsumsi gula stevia lebih menyehatkan ketimbang gula biasa. Stevia bisa digunakan sebagai pengganti gula biasa untuk masakan rumahan dan kue. Namun, jika gula jenis ini tidak dimasak dengan cara yang tepat, stevia bisa menimbulkan rasa pahit.Ketika mengganti gula biasa dengan stevia, makanan yang diolah dengan cara dipanggang tidak memiliki rasa dan tekstur yang sama dibanding menggunakan gula biasa.Sebab, stevia mengalami proses reaksi yang memicu terjadinya perubahan warna jadi cokelat keemasan dan sedikit rasa pahit. Stevia juga menambah tekstur makanan yang dipanggang menjadi lebih keras.Terlepas dari itu, stevia bisa bekerja dengan baik sebagai pengganti gula.Untuk meminimalisir rasa pahit yang ditimbulkan stevia, kamu bisa menggunakan campuran gula biasa berskala 1:1. Sumber : halodoc.com/artikel
Gagasan pendukung yang dapat mempekuat simpulan bahwa penggunaan Stevia lebi baik dibandingkangula biasa untuk kesehatan adalah…. Stevia efektif menurunkan indeks glikemik (GI) makanan. Stevia rebaudiana ini juga tidak mengandung karbohidrat sehingga baik dikonsumsi pengidap diabetes GI merupakan indikator seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh Untuk meminimalisir rasa pahit yang ditimbulkan stevia, kamu bisa menggunakan campuran gula biasa berskala 1:1 Stevia mengalami proses reaksi yang memicu terjadinya perubahan warna jadi cokelat keemasan dan sedikit rasa pahit. |
|
| SOAL 14 | |
| Bacalah teks informasi berikut!
Makna Sebilah Bambu dalam Tari Bambu Gila Tari Bambu Gila atau Baramasewel merupakan permainan sejak jaman penjajahan Portugis di masa lalu yang berasal dari Maluku. Tarian ini memang bernuansa mistis dengan melibatkan adanya roh halus yang akan menggerakkan sebatang bambu panjang yang dibawa oleh tujuh orang dewasa. Pada masyarakat Maluku yang masih tradisional, aura mistis dalam permainan bambu gila akan terasa sangat kental. Pasalnya, orang-orang yang boleh memainkan bambu gila bukanlah orang sembarangan, melainkan mereka yang sudah terpilih. Tari Bambu Gila digunakan salah satunya sebagai pemindahan dan penarikan kapal dilakukan dengan bantuan Bambu Gila. Selain itu, pada masa peperangan, Bambu Gila digunakan untuk melawan musuh. Masyarakat Maluku juga menjadikan Bambu Gila sebagai bagian spiritual dan warisan budaya dari leluhurnya sebagai pertunjukan masyarakat Maluku sekaligus sebagai sarana dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi sekarang sudah mulai sebagai hiburan suatu acara, asalkan tidak menyalahi aturan dan normanya. Semakin berkembangnya jaman tari Bulu Gila ini yang sudah dimodifikasi dalam gerakannya. Walaupun kehadiran Roh Halus ini adalah hal yang sangat menarik dari tarian ini, maka makna tarian ini bukanlah hal-hal gaib di dalam tarian. Sebenarnya, gerak para penari yang menahan gerakan magis bambu adalah sebuah simbol dari nilai kebersamaan yang harus tetap terjaga. Gerakan kaki yang serempak dan penuh dengan kekuatan menunjukkan semangat gotong royong dalam kehidupan rakyat Maluku yang disebut Masohi. Meskipun telah dilakukan hasil modifikasi, makna inilah yang tetap ada dan lebih ditonjolkan dalam tarian Bambu Gila, dan nilai-nilai inilah yang masih terbawa dalam tarian Bambu Gila. Tari Bulu atau Bambu Gila ini sebenarnya sudah cukup langka, sekalipun itu di Maluku sendiri. Hanya ada beberapa kampung yang mampu membawakan tarian ini secara autentik. Namun demikian, banyak sanggar tari di Maluku yang telah mempelajarinya dan mengambil intisari tarian ini untuk ditampilkan dalam bentuk yang lebih modern. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu atau hiburan dalam berbagai acara formal. Bambu Gila adalah sebuah identitas masyarakat Maluku yang tidak akan ditemukan di belahan Nusantara lainnya. Lewat tarian ini, maka kita akan semakin yakin bahwa Indonesia itu memang kaya. Sumber: indonesiakaya.com Makna istilah autentik pada paragraf keempat teks tersebut adalah…. A. lama B. baru C. asli D. unik E. Sesuai
|
|
| SOAL 15 | |
| Penggunaan kata “binatang jalang” untuk menggambarkan tokoh “aku” menunjukkan bahwa tokoh tersebut…
Bacalah teks informasi berikut! Makna Sebilah Bambu dalam Tari Bambu Gila Tari Bambu Gila atau Baramasewel merupakan permainan sejak jaman penjajahan Portugis di masa lalu yang berasal dari Maluku. Tarian ini memang bernuansa mistis dengan melibatkan adanya roh halus yang akan menggerakkan sebatang bambu panjang yang dibawa oleh tujuh orang dewasa. Pada masyarakat Maluku yang masih tradisional, aura mistis dalam permainan bambu gila akan terasa sangat kental. Pasalnya, orang-orang yang boleh memainkan bambu gila bukanlah orang sembarangan, melainkan mereka yang sudah terpilih. Tari Bambu Gila digunakan salah satunya sebagai pemindahan dan penarikan kapal dilakukan dengan bantuan Bambu Gila. Selain itu, pada masa peperangan, Bambu Gila digunakan untuk melawan musuh. Masyarakat Maluku juga menjadikan Bambu Gila sebagai bagian spiritual dan warisan budaya dari leluhurnya sebagai pertunjukan masyarakat Maluku sekaligus sebagai sarana dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi sekarang sudah mulai sebagai hiburan suatu acara, asalkan tidak menyalahi aturan dan normanya. Semakin berkembangnya jaman tari Bulu Gila ini yang sudah dimodifikasi dalam gerakannya. Walaupun kehadiran Roh Halus ini adalah hal yang sangat menarik dari tarian ini, maka makna tarian ini bukanlah hal-hal gaib di dalam tarian. Sebenarnya, gerak para penari yang menahan gerakan magis bambu adalah sebuah simbol dari nilai kebersamaan yang harus tetap terjaga. Gerakan kaki yang serempak dan penuh dengan kekuatan menunjukkan semangat gotong royong dalam kehidupan rakyat Maluku yang disebut Masohi. Meskipun telah dilakukan hasil modifikasi, makna inilah yang tetap ada dan lebih ditonjolkan dalam tarian Bambu Gila, dan nilai-nilai inilah yang masih terbawa dalam tarian Bambu Gila. Tari Bulu atau Bambu Gila ini sebenarnya sudah cukup langka, sekalipun itu di Maluku sendiri. Hanya ada beberapa kampung yang mampu membawakan tarian ini secara autentik. Namun demikian, banyak sanggar tari di Maluku yang telah mempelajarinya dan mengambil intisari tarian ini untuk ditampilkan dalam bentuk yang lebih modern. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu atau hiburan dalam berbagai acara formal. Bambu Gila adalah sebuah identitas masyarakat Maluku yang tidak akan ditemukan di belahan Nusantara lainnya. Lewat tarian ini, maka kita akan semakin yakin bahwa Indonesia itu memang kaya. Sumber: indonesiakaya.com Semakin berkembangnya zaman, tari Bulu Gila ini sudah dimodifikasi dalam gerakannya. Apa yang menjadi penyebab perubahan atau modifikasi dari tarian Bulu Gila ini? Perilaku masyarakat yang modern dan meninggalkan tradisi. Keinginan masyarakat membuat tradisi yang sederhana. Kelengkapan dalam tradisi bambu gila semakin langka. Turunnya minat dalam bermain tradisi tari gila. Pola pikir masyarakat yang semakin modern.
|
|
| SOAL 16 | ||||
| Bacalah teks informasi berikut!
Tren minuman es teh manis di kalangan mahasiswa Indonesia telah menjadi fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dari sudut kesehatan masyarakat. Minuman ini tidak hanya populer karena rasanya yang segar dan manis, melainkan juga karena kemudahan akses dan harga yang terjangkau. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan tekanan akademik, es teh manis sering dijadikan pilihan utama untuk menghilangkan dahaga sekaligus mendapatkan energi instan. Namun, konsumsi berlebihan minuman manis seperti es teh ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari risiko diabetes hingga obesitas. Untuk menganalisis kebiasaan ini secara mendalam, teori perilaku yang tepat digunakan adalah Health Belief Model (HBM), yang mengkaji bagaimana persepsi individu terhadap risiko dan manfaat memengaruhi perilaku kesehatan mereka. HBM juga memperhitungkan aspek psikologis dan sosial dalam membentuk keputusan konsumsi. Penting untuk memahami apa yang sedang terjadi. Berdasarkan data dari Jurnal Gizi Universitas Negeri Surabaya, sekitar 41% mahasiswa mengonsumsi minuman manis kemasan lebih dari sekali dalam sehari, dan es teh manis menjadi salah satu minuman favorit di antara mereka. Minuman ini menawarkan kalori kosong yang tinggi tanpa kandungan gizi berarti, sehingga sering disebut sebagai sumber energi instan yang membantu mahasiswa tetap fokus dan berenergi dalam menghadapi jadwal kuliah yang padat. Selain itu, tren sosial dan budaya turut memperkuat kebiasaan ini. Kehadiran kafe-kafe di sekitar kampus dan promosi melalui media sosial menjadikan es teh manis bagian dari gaya hidup modern mahasiswa yang ingin tampil kekinian dan menikmati momen santai bersama teman. Selain itu, preferensi rasa yang manis telah terbentuk sejak remaja, memperkuat keterikatan emosional terhadap minuman ini. Mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang sosial ekonomi, terutama mereka yang tinggal di lingkungan kampus dan kawasan perkotaan. Kelompok usia muda ini sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial dan budaya, sehingga kebiasaan mengonsumsi es teh manis menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Data dari survei Jakpat juga menunjukkan bahwa minuman teh manis, termasuk es teh, menjadi minuman manis paling populer di kalangan Gen Z, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pekerja muda. Frekuensi konsumsi teh manis ini bahkan mencapai 67% pada kalangan Gen Z dengan frekuensi konsumsi 1-3 kali sehari, menegaskan dominasi konsumsi minuman ini di kalangan mahasiswa. Faktor lingkungan seperti iklim tropis dan aktivitas luar ruang turut mempercepat konsumsi. Konsumsi es teh manis cenderung meningkat di siang hari, terutama ketika cuaca panas yang khas di Indonesia. Mahasiswa cenderung memilih es teh manis sebagai minuman penyegar setelah makan siang atau saat beristirahat dari aktivitas belajar. Fenomena ini juga didukung oleh kemudahan akses dan harga yang sangat terjangkau, seperti es teh jumbo yang populer dengan harga mulai Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per gelas. Harga yang murah dan porsi yang besar membuat es teh manis menjadi pilihan praktis dan ekonomis bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan dana. Promosi digital dengan diskon dan cashback juga meningkatkan konsumsi secara tidak sadar. Es teh manis banyak ditemui di warung kaki lima, kantin kampus, kafe, dan restoran di sekitar kampus. Lokal-lokal ini merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa yang ingin menikmati minuman yang segar dengan harga yang murah dan lingkungan yang kondusif untuk interaksi sosial. Tren es teh solo, misalnya, menunjukkan bagaimana minuman tradisional ini terus ada dan berkembang pesat di beberapa daerah, bahkan melalui sistem franchise yang menjangkau pasar lebih luas. Media sosial juga memainkan peran besar dalam menyebarkan tren ini, dengan banyak konten viral yang menampilkan es teh jumbo dan varian es teh kekinian lainnya, sehingga semakin menguatkan popularitasnya di kalangan mahasiswa. Bahkan, konten ini sering dipadukan dengan elemen gaya hidup minimalis dan praktis. Kebiasaan konsumsi es teh manis ini masih terus berlanjut dapat dianalisis dengan menggunakan komponen utama Health Belief Model. Pertama adalah persepsi kerentanan (perceived susceptibility). Banyak mahasiswa yang belum sadar atau meremehkan risiko kesehatan karena konsumsi gula berlebih dalam es teh manis. Mereka merasa masih muda dan sehat sehingga tidak khawatir akan efek jangka panjang seperti diabetes atau obesitas. Kedua, persepsi keparahan (perceived severity) juga masih rendah; mahasiswa kurang mengerti betapa seriusnya komplikasi yang mungkin terjadi akibat kebiasaan ini, seperti gangguan metabolik dan penyakit kronis lainnya. Ketiga, persepsi manfaat (perceived benefits) dari mengonsumsi es teh manis sangat kuat. Mahasiswa merasakan kesegaran instan dan dorongan energi yang membuat mereka tetap fokus dan terjaga saat belajar. Selain itu, harganya yang terjangkau dan rasanya yang enak membuat es teh manis menjadi minuman favorit. Keempat, persepsi hambatan (perceived barriers) dalam mengurangi konsumsi es teh manis sangatlah tinggi. Alternatif minuman sehat yang lebih sehat seringkali lebih mahal dan kurang tersedia di lingkungan universitas. Kultur sosial yang melekat juga menjadikan mahasiswa sulit menghindari konsumsi es teh pada saat berkumpul dengan teman atau sedang makan. Terakhir, isyarat bertindak (cues to action) yang memicu perubahan perilaku masih minim. Kampanye kesehatan yang spesifik mengenai risiko konsumsi gula berlebih dalam es teh manis belum banyak dilakukan di lingkungan kampus. Selain itu, iklan dan promosi minuman manis justru semakin masif di media sosial, memperkuat tren konsumsi tanpa memberikan edukasi risiko. Mahasiswa juga cenderung lebih responsif terhadap visual yang menarik dibandingkan informasi berbasis teks. Pendekatan berbasis Health Belief Model menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap risiko kesehatan melalui edukasi yang menarik dan mudah dipahami. Kampanye yang menampilkan dampak nyata konsumsi gula berlebih, seperti risiko diabetes dan obesitas, dapat meningkatkan persepsi kerentanan dan keparahan. Selain itu, menyediakan alternatif minuman sehat yang terjangkau dan mudah diakses di lingkungan kampus dapat mengurangi hambatan yang dirasakan mahasiswa. Mengubah norma sosial melalui keterlibatan komunitas mahasiswa dan organisasi kampus juga penting untuk mengurangi tekanan sosial agar tidak selalu mengonsumsi es teh manis. Kolaborasi dengan UKM kampus, influencer edukatif, dan penyedia makanan sehat bisa menjadi langkah konkret. Penguatan isyarat bertindak juga dapat dilakukan dengan memberikan label peringatan kesehatan pada kemasan minuman manis dan memasukkan materi edukasi tentang konsumsi gula dalam kurikulum atau kegiatan kampus. Media sosial, yang selama ini memperkuat tren minuman manis, juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan kampanye kesehatan yang kreatif dan viral. Pendekatan storytelling terbukti lebih efektif dalam menarik perhatian generasi muda. Secara keseluruhan, tren konsumsi es teh manis di kalangan mahasiswa merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor budaya, sosial, ekonomi, dan psikologis. Health Belief Model memberikan kerangka yang komprehensif untuk memahami bagaimana persepsi mahasiswa memengaruhi kebiasaan mereka dalam mengonsumsi es teh manis. Dengan melakukan hal tersebut, intervensi yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan efektif dalam mengubah perilaku konsumen, sehingga mahasiswa tetap dapat menikmati manfaat dari teh tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang mereka. Menemukan keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan merupakan kunci utama dalam menghadapi tren es teh manis yang terus berkembang di kalangan generasi muda Indonesia. Sumber: https://fkm.unair.ac.id/2025/11/13/tren-konsumsi-es-teh-manis-di-kalangan-mahasiswa-analisis-perilaku-menggunakan-hbm/ Hubungan antar kalimat 3 dan 4 pada paragraf kedua adalah… A. Kalimat 3 merupakan akibat, sedangkan Kalimat 4 sebab B. Kalimat 4 merupakan akibat, sedangkan Kalimat 3 sebab C. Kalimat 3 merupakan pertentangan kalimat 4 D. Kalimat 4 merupakan pertentangan kalimat 3 E. Kalimat 3 merupakan penegasan kalimat 4 |
||||
| KUNCI
JAWABAN |
||||
| PEMBAHASAN | ||||
| Hubungan antarkalimat biasanya ditandai dengan penggunaan konjungsi. Adapun hubungan antarkalimat biasanya bermakna pertentangan yang ditandai konjungsi “tetapi”, “namun”, hubungan bermakna sebab akibat biasanya menggunakan “oleh sebab itu” serta hubungan penegasan ditandai dengan penggunaan kata “bahkan” | ||||
| No. Soal | 17_(Suheni) | |||
| SOAL 17 | ||||
| Bacalah teks informasi berikut!
Tren minuman es teh manis di kalangan mahasiswa Indonesia telah menjadi fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dari sudut kesehatan masyarakat. Minuman ini tidak hanya populer karena rasanya yang segar dan manis, melainkan juga karena kemudahan akses dan harga yang terjangkau. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan tekanan akademik, es teh manis sering dijadikan pilihan utama untuk menghilangkan dahaga sekaligus mendapatkan energi instan. Namun, konsumsi berlebihan minuman manis seperti es teh ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari risiko diabetes hingga obesitas. Untuk menganalisis kebiasaan ini secara mendalam, teori perilaku yang tepat digunakan adalah Health Belief Model (HBM), yang mengkaji bagaimana persepsi individu terhadap risiko dan manfaat memengaruhi perilaku kesehatan mereka. HBM juga memperhitungkan aspek psikologis dan sosial dalam membentuk keputusan konsumsi. Penting untuk memahami apa yang sedang terjadi. Berdasarkan data dari Jurnal Gizi Universitas Negeri Surabaya, sekitar 41% mahasiswa mengonsumsi minuman manis kemasan lebih dari sekali dalam sehari, dan es teh manis menjadi salah satu minuman favorit di antara mereka. Minuman ini menawarkan kalori kosong yang tinggi tanpa kandungan gizi berarti, sehingga sering disebut sebagai sumber energi instan yang membantu mahasiswa tetap fokus dan berenergi dalam menghadapi jadwal kuliah yang padat. Selain itu, tren sosial dan budaya turut memperkuat kebiasaan ini. Kehadiran kafe-kafe di sekitar kampus dan promosi melalui media sosial menjadikan es teh manis bagian dari gaya hidup modern mahasiswa yang ingin tampil kekinian dan menikmati momen santai bersama teman. Selain itu, preferensi rasa yang manis telah terbentuk sejak remaja, memperkuat keterikatan emosional terhadap minuman ini. Mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang sosial ekonomi, terutama mereka yang tinggal di lingkungan kampus dan kawasan perkotaan. Kelompok usia muda ini sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial dan budaya, sehingga kebiasaan mengonsumsi es teh manis menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Data dari survei Jakpat juga menunjukkan bahwa minuman teh manis, termasuk es teh, menjadi minuman manis paling populer di kalangan Gen Z, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pekerja muda. Frekuensi konsumsi teh manis ini bahkan mencapai 67% pada kalangan Gen Z dengan frekuensi konsumsi 1-3 kali sehari, menegaskan dominasi konsumsi minuman ini di kalangan mahasiswa. Faktor lingkungan seperti iklim tropis dan aktivitas luar ruang turut mempercepat konsumsi. Konsumsi es teh manis cenderung meningkat di siang hari, terutama ketika cuaca panas yang khas di Indonesia. Mahasiswa cenderung memilih es teh manis sebagai minuman penyegar setelah makan siang atau saat beristirahat dari aktivitas belajar. Fenomena ini juga didukung oleh kemudahan akses dan harga yang sangat terjangkau, seperti es teh jumbo yang populer dengan harga mulai Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per gelas. Harga yang murah dan porsi yang besar membuat es teh manis menjadi pilihan praktis dan ekonomis bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan dana. Promosi digital dengan diskon dan cashback juga meningkatkan konsumsi secara tidak sadar. Es teh manis banyak ditemui di warung kaki lima, kantin kampus, kafe, dan restoran di sekitar kampus. Lokal-lokal ini merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa yang ingin menikmati minuman yang segar dengan harga yang murah dan lingkungan yang kondusif untuk interaksi sosial. Tren es teh solo, misalnya, menunjukkan bagaimana minuman tradisional ini terus ada dan berkembang pesat di beberapa daerah, bahkan melalui sistem franchise yang menjangkau pasar lebih luas. Media sosial juga memainkan peran besar dalam menyebarkan tren ini, dengan banyak konten viral yang menampilkan es teh jumbo dan varian es teh kekinian lainnya, sehingga semakin menguatkan popularitasnya di kalangan mahasiswa. Bahkan, konten ini sering dipadukan dengan elemen gaya hidup minimalis dan praktis. Kebiasaan konsumsi es teh manis ini masih terus berlanjut dapat dianalisis dengan menggunakan komponen utama Health Belief Model. Pertama adalah persepsi kerentanan (perceived susceptibility). Banyak mahasiswa yang belum sadar atau meremehkan risiko kesehatan karena konsumsi gula berlebih dalam es teh manis. Mereka merasa masih muda dan sehat sehingga tidak khawatir akan efek jangka panjang seperti diabetes atau obesitas. Kedua, persepsi keparahan (perceived severity) juga masih rendah; mahasiswa kurang mengerti betapa seriusnya komplikasi yang mungkin terjadi akibat kebiasaan ini, seperti gangguan metabolik dan penyakit kronis lainnya. Ketiga, persepsi manfaat (perceived benefits) dari mengonsumsi es teh manis sangat kuat. Mahasiswa merasakan kesegaran instan dan dorongan energi yang membuat mereka tetap fokus dan terjaga saat belajar. Selain itu, harganya yang terjangkau dan rasanya yang enak membuat es teh manis menjadi minuman favorit. Keempat, persepsi hambatan (perceived barriers) dalam mengurangi konsumsi es teh manis sangatlah tinggi. Alternatif minuman sehat yang lebih sehat seringkali lebih mahal dan kurang tersedia di lingkungan universitas. Kultur sosial yang melekat juga menjadikan mahasiswa sulit menghindari konsumsi es teh pada saat berkumpul dengan teman atau sedang makan. Terakhir, isyarat bertindak (cues to action) yang memicu perubahan perilaku masih minim. Kampanye kesehatan yang spesifik mengenai risiko konsumsi gula berlebih dalam es teh manis belum banyak dilakukan di lingkungan kampus. Selain itu, iklan dan promosi minuman manis justru semakin masif di media sosial, memperkuat tren konsumsi tanpa memberikan edukasi risiko. Mahasiswa juga cenderung lebih responsif terhadap visual yang menarik dibandingkan informasi berbasis teks. Pendekatan berbasis Health Belief Model menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap risiko kesehatan melalui edukasi yang menarik dan mudah dipahami. Kampanye yang menampilkan dampak nyata konsumsi gula berlebih, seperti risiko diabetes dan obesitas, dapat meningkatkan persepsi kerentanan dan keparahan. Selain itu, menyediakan alternatif minuman sehat yang terjangkau dan mudah diakses di lingkungan kampus dapat mengurangi hambatan yang dirasakan mahasiswa. Mengubah norma sosial melalui keterlibatan komunitas mahasiswa dan organisasi kampus juga penting untuk mengurangi tekanan sosial agar tidak selalu mengonsumsi es teh manis. Kolaborasi dengan UKM kampus, influencer edukatif, dan penyedia makanan sehat bisa menjadi langkah konkret. Penguatan isyarat bertindak juga dapat dilakukan dengan memberikan label peringatan kesehatan pada kemasan minuman manis dan memasukkan materi edukasi tentang konsumsi gula dalam kurikulum atau kegiatan kampus. Media sosial, yang selama ini memperkuat tren minuman manis, juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan kampanye kesehatan yang kreatif dan viral. Pendekatan storytelling terbukti lebih efektif dalam menarik perhatian generasi muda. Secara keseluruhan, tren konsumsi es teh manis di kalangan mahasiswa merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor budaya, sosial, ekonomi, dan psikologis. Health Belief Model memberikan kerangka yang komprehensif untuk memahami bagaimana persepsi mahasiswa memengaruhi kebiasaan mereka dalam mengonsumsi es teh manis. Dengan melakukan hal tersebut, intervensi yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan efektif dalam mengubah perilaku konsumen, sehingga mahasiswa tetap dapat menikmati manfaat dari teh tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang mereka. Menemukan keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan merupakan kunci utama dalam menghadapi tren es teh manis yang terus berkembang di kalangan generasi muda Indonesia. Sumber: https://fkm.unair.ac.id/2025/11/13/tren-konsumsi-es-teh-manis-di-kalangan-mahasiswa-analisis-perilaku-menggunakan-hbm/ Fenomena utama yang dibahas dalam teks tersebut…. A. Maraknya warung, kaki lima, kantin kampus, kafe, dan restoran di sekitar kampus yang menjual es teh manis. B. Edukasi terkait risiko kesehatan gencar dilakukan. C. Mahasiswa kurang mengerti betapa seriusnya komplikasi yang terjadi jika sering mengonsumsi es teh manis. D. Tren minuman es teh manis di kalangan mahasiswa Indonesia merupakan fenomena. yang mengkhawatirkan E. Konsumsi es teh manis meningkat di siang hari. |
||||
| KUNCI
JAWABAN |
||||
| PEMBAHASAN | ||||
| Kosakata kunci seperti kata es teh manis, tren, minuman, kesehatan, menunjukkan bahwa tren es teh manis di kalangan mahasiswa Indonesia merupakan fenomena yang mengkhawatirkan | ||||
| No. Soal | 18_(Yuliardi Rudian) | |||
| SOAL 18 | |
|
Untuk soal nomor 1-4. Bacalah teks di bawah ini! Hans Bague Jassin (1917—2000)
Hans Bague Jassin yang dikenal dengan nama H.B. Jassin lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta, 11 Maret 2000. Ayahnya bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).
Ibunya bernama Habiba Jau. Kegemaran ayahnya membaca dan mengoreksi bacaan-bacaan dalam perpustakaan pribadinya mempunyai pengaruh besar terhadap Jassin. Jassin kecil sering membaca koleksi ayahnya secara diam-diam karena dilarang membaca bacaan orang dewasa. Kegemaran membaca ini terus berlanjut dan inilah yang kemudian menjadi pemicu baginya untuk menjadi kritikus dan kolektor dokumen sastra Indonesia. Di kemudian hari kedudukan Jassin sebagai kritikus dan esais menjadi sangat kuat sehingga Gayus Siagiaan menjulukinya sebagai “Paus Sastra Indonesia”. Koleksi pribadinya dokumen sastranya kemudian terkumpul di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, sebuah lembaga yang amat banyak jasanya dalam pendokumentasian sastra Indonesia dan menjadi salah satu pusat penelitian sastra Indonesia yang penting pula.
Ia berasal dari keluarga Islam. Istrinya yang pertama bernama Tientje van Buren. Istrinya yang kedua bernama Arsita yang meninggal tanggal 12 Maret 1962. Mereka menikah tahun 1946 dan mempunyai anak bernama Hanibal Jassin dan Mastina Jassin. Setelah Arsita meninggal, H.B. Jassin menikah lagi dengan Yuliko pada tanggal 16 Desember 1962. Mereka dianugerahi dua orang anak, yaitu Yulius Firdaus Jassin dan Helena Magdalena Jassin. H.B. Jassin sebagaimana telah dipaparkan di atas dijuluki Paus Sastra Indonesia oleh Gayus Siagian karena otoritasnya sebagai kritikus dan esais terkemuka di Indonesia pada dasawarsa 1950—1960an. Menurut Jassin, seseorang yang mau menjadi kritikus harus mempunyai bakat seniman, berjiwa besar, dapat menghindari nafsu dengki, iri hati, dan benci. Seorang kritikus juga harus memiliki sikap riang dalam berhadapan dengan siapa pun. Selain itu, seorang kritikus juga memerlukan pengalaman hidup yang cukup agar dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut. Dialah satu-satunya kritikus sastra Indonesia yang tekun dan secara terus-menerus mengikuti perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Karena usianya makin tua, sesudah tahun 1970 ia kurang sempat lagi mengikuti perkembangan sastra. Namun, semangatnya untuk menghimpun dokumentasi sastra masih terus berlanjut.
Pada tahun 1970, Jassin pernah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Ia dituduh menghina agama Islam karena bertanggung jawab memuat cerpen Kipanjikusmin “Langit Makin Mendung” dalam majalah Sastra, Agustus 1968. Pledoinya yang berjudul “Pembelaan Imajinasi” merupakan salah satu dokumen historis terpenting mengenai sastra Indonesia. Selain itu, karena ikut menandatangani Manifes Kebudayaan, ia dipecat dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1965 beberapa bulan sebelum G-30-S/PKI meletus.
H.B. Jassin menamatkan pendidikan HIS Gorontalo tahun 1923, HBS-B selama 5 tahun di Medan tahun 1939, dan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1957. Kemudian, ia memperdalam pengetahuan dalam bidang Ilmu Perbandingan Kesusasteraan di Universitas Yale, Amerika Serikat tahun 1958–1959. Karena jasanya dalam bidang sastra Indonesia, ia menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia tahun 1975. Menurut Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada waktu itu, pengetahuan orang tentang sastra Indonesia didasarkan pada pengetahuan yang dikembangkan oleh H.B. Jassin.
H.B. Jassin sangat berjasa dalam perkembangan sastra Indonesia karena kegiatan menulis esai dan kritik sastranya. Sebagai seorang kritikus, H.B. Jassin adalah orang pertama yang membela Chairil Anwar. Hal itu dilakukannya pada tahun 1956, yang saat itu Chairil Anwar dituduh sebagai plagiat melalui bukunya Chairil Anwar Penyair Angkatan 45. Minatnya dalam bidang ini dimulai awal tahun 1940-an.
H.B. Jassin pernah bekerja di Kantor Asisten Residen Gorontalo tahun 1939, sebagai redaktur Balai Pustaka tahun 1940—1942, sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1953—1959, sebagai dosen luar biasa di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia sejak tahun 1961 (menjadi pembimbing skripsi), dan menjadi Lektor tetap di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia sejak tahun 1973 hingga pensiun. Dia menjadi pegawai di Lembaga Bahasa Nasional (sekarang Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan Nasional tahun 1954—1973. Dia pernah menjadi redaktur majalah Pudjangga Baroe tahun 1940—1942, Pandji Poestaka tahun 1942—1945, Pantja Raja tahun 1945—1947, Mimbar Indonesia tahun 1947—1956, Zenith tahun 1951—1954, Bahasa dan Budaja tahun 1952—1963, Kisah tahun 1953—1956, Seni tahun 1955, Sastra tahun 1961—1964 dan 1967—1969, Medan Ilmu Pengetahuan, Buku Kita, dan Horison sejak tahun 1975 sampai 1980-an. Sumber: https://ensiklopedia.kemendikdasmen.go.id/sastra/artikel/Hans_Bague_Jassin | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Soal: Mengapa H.B. Jasin dijuluki “Paus Sastra Indonesia”? A. Karena ia memiliki pengaruh dan wibawa yang sangat besar sebagai kritikus sastra. B. Karena dia memiliki banyak koleksi buku-buku yang berkaitan dengan sastra. C. H.B. Jasin mempunyai hobi yang berkaitan dengan kesusasteraan sejak dia masih kecil. D. Sebagai “Paus Sastra Indonesia”, H.B. Jasin sering mengkritisi berbagai karya sastra Indonesia yang membuat dia terlihat memahami karya tersebut. E. H.B. Jasin seringkali mengedit dan mendalami berbagai karya sastra Indonesia. |
|
| SOAL 19 | |
| Perhatikan pernyataan berikut!
H.B. Jassin dijatuhi hukuman bersyarat karena ikut menandatangani Manifes Kebudayaan pada tahun 1965. Pernyataan tersebut adalah …. A. Benar, karena penandatanganan Manifes Kebudayaan merupakan pelanggaran hukum. B. Benar, karena H.B. Jassin dijatuhi hukuman pada tahun 1965. C. Salah, karena H.B. Jassin tidak pernah menandatangani Manifes Kebudayaan. D. Salah, karena hukuman tersebut berkaitan dengan pemuatan cerpen “Langit Makin Mendung” dalam majalah Sastra. E. Salah, karena H.B. Jassin dijatuhi hukuman akibat membela Chairil Anwar.
|
|
| SOAL 20 | |
| Perhatikan pernyataan berikut!
H.B. Jassin dijuluki “Paus Sastra Indonesia” oleh Gayus Siagian karena otoritasnya sebagai kritikus dan esais terkemuka di Indonesia. Pernyataan tersebut adalah …. A. Benar, karena sesuai dengan informasi dalam teks. B. Salah, karena julukan tersebut diberikan oleh Chairil Anwar. C. Salah, karena H.B. Jassin dijuluki sebagai “Bapak Sastra Indonesia”. D. Salah, karena julukan tersebut diberikan karena H.B. Jassin seorang penyair. E. Salah, karena H.B. Jassin tidak pernah menjadi kritikus sastra. |
|
| SOAL 21 | |
| Berdasarkan teks biografi tersebut, pernyataan manakah yang paling tepat menjelaskan hubungan antara pengalaman hidup H.B. Jassin dengan kontribusinya terhadap perkembangan sastra Indonesia?
A. Pengalaman H.B. Jassin sebagai pegawai, dosen, dan redaktur berbagai majalah membuatnya lebih mengutamakan kegiatan administratif daripada kegiatan kritik dan dokumentasi sastra. B. Kegemaran membaca sejak kecil, pengalaman dalam dunia penerbitan dan pendidikan, serta ketekunannya mengikuti perkembangan sastra membentuk otoritas H.B. Jassin sebagai kritikus sekaligus mendorongnya mendokumentasikan perjalanan sastra Indonesia secara berkelanjutan. C. Kedudukan H.B. Jassin sebagai Paus Sastra Indonesia terutama disebabkan oleh latar belakang pendidikannya di Universitas Yale dan pemberian gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia. D. Pengalaman H.B. Jassin menghadapi persoalan hukum akibat pemuatan cerpen Langit Makin Mendung menjadi faktor utama yang menyebabkan dirinya beralih dari kritikus sastra menjadi kolektor dokumen sastra. E. Aktivitas H.B. Jassin sebagai redaktur berbagai majalah sastra menunjukkan bahwa kontribusi terbesarnya terhadap sastra Indonesia terletak pada kemampuan menerbitkan karya sastra, sedangkan kegiatan kritik dan dokumentasi hanya merupakan kegiatan pendukung. |
|
| SOAL 22 | |
|
Untuk menjawab soal nomor 5 – 8.
Bacalah puisi di bawah ini dengan cermat!
Aku Karya Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Aku ini binatang jalang
Biar peluru menembus kulitku
Luka dan bisa kubawa berlari
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Soal Puisi “Aku” secara umum menggambarkan sosok penyair yang… A. takut menghadapi kehidupan B. memiliki semangat dan keteguhan diri C. ingin hidup dalam kemewahan D. selalu bergantung pada orang lain E. menghindari segala bentuk perubahan
|
|
| SOAL 23 | |
| Penggunaan kata “binatang jalang” untuk menggambarkan tokoh “aku” menunjukkan bahwa tokoh tersebut…
A. benar-benar merupakan seekor binatang B. memiliki sifat liar, bebas, dan tidak mau terikat C. memiliki kehidupan yang berkecukupan D. tidak mampu berkomunikasi dengan manusia E. menyukai kehidupan di alam liar |
|
| SOAL 24 | |
| Pernyataan yang paling tepat mengenai hubungan antara judul “Aku” dan isi puisi adalah…
A. Judul hanya menunjukkan nama tokoh tanpa berkaitan dengan isi puisi. B. Judul menegaskan fokus puisi pada sikap, identitas, dan perjuangan tokoh “aku”. C. Judul menunjukkan bahwa puisi membahas kehidupan orang lain. D. Judul digunakan untuk menggambarkan keindahan alam. E. Judul menunjukkan bahwa penyair sedang menceritakan kisah percintaan.
|
|
| SOAL 25 | |
| Perhatikan karakteristik berikut!
1) Menggunakan ungkapan yang lugas dan kuat. 2) Menampilkan sikap individual dan pemberontakan. 3) Menggunakan bahasa yang penuh simbol dan ekspresi. 4) Mengutamakan cerita panjang dengan alur yang kompleks. Karakteristik yang sesuai dengan puisi “Aku” adalah… A. (1) dan (2) B. (1), (2), dan (3) C. (1), (3), dan (4) D. (2) dan (4) E. (1), (2), (3), dan (4)
|
|
| SOAL 26 | |
|
Bacalah teks berikut dengan cermat! (1) Tradisi reboisasi berbasis kearifan lokal seperti Mabbaca Doang dan larangan menebang pohon keramat di sekitar mata air kini mulai tergerus oleh laju modernisasi. Di berbagai wilayah pedesaan, nilai-nilai adat yang selama generasi ke generasi berfungsi menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem mulai dianggap sekadar mitos usang oleh generasi muda. Hal ini berakibat pada berkurangnya partisipasi masyarakat lokal dalam menjaga area tangpan air dan hutan adat. 2) Akibat hilangnya benteng budaya tersebut, degradasi lingkungan di kawasan perdesaan kian masif dan memicu krisis air bersih saat musim kemarau. Tanpa adanya rasa hormat terhadap norma adat yang dahulu menahan eksploitasi alam, alih fungsi lahan hijau menjadi pemukiman dan kawasan komersial berlangsung tanpa kendali. Hubungan sosial antarwarga pun merenggang karena gotong royong dalam merawat lingkungan tidak lagi menjadi norma bersama. https://www.researchgate.net/publication/355116623_TRADISI_MABBACA_DOANG_MASYARAKAT_SUKU_BUGIS_KELURAHAN_KABONENA_KECAMATAN_ULUJADI_KOTA_PALU Bagaimanakah hubungan makna antara paragraf pertama dan paragraf kedua dalam teks tersebut? A. Paragraf kedua menunjukkan contoh konkret dari tradisi kearifan lokal yang dijelaskan pada paragraf pertama. B. Paragraf kedua menjelaskan akibat atau dampak sosial-lingkungan dari fenomena yang dipaparkan pada paragraf pertama. C. Paragraf kedua menyajikan solusi atas permasalahan degradasi nilai budaya yang disebutkan pada paragraf pertama. D. Paragraf kedua menyampaikan bantahan terhadap anggapan masyarakat tentang tradisi lokal pada paragraf pertama. E. Paragraf kedua membandingkan penerapan kearifan lokal di daerah pedesaan dengan wilayah perkotaan.
|
|
| SOAL 27 | |
|
Cermatilah teks berikut! Pemanfaatan Energi Terbarukan di Indonesia Laju transisi energi di Indonesia terus didorong guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai lebih dari 3.600 Gigawatt (GW) yang bersumber dari sinar matahari, angin, hidro, dan panas bumi. Namun, hingga tahun 2024, pemanfaatannya baru mencapai sekitar 13% dari total potensi tersebut. Banyak pihak menilai lambatnya penyerapan ini disebabkan oleh tingginya biaya investasi awal untuk infrastruktur teknologi bersih serta terbatasnya akses pendanaan. Meskipun demikian, beberapa pemerhati ekonomi justru berpendapat bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak tertarik menggunakan energi hijau karena harganya yang dinilai selalu lebih mahal ketimbang listrik dari batu bara. Padahal, studi terbaru menunjukkan bahwa biaya produksi panel surya global telah turun hingga 80% dalam dekade terakhir, menjadikannya salah satu sumber energi termurah saat ini. Manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat menggambarkan kelemahan argumen dari kelompok pemerhati ekonomi dalam teks di atas? A. Mengabaikan fakta bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.600 GW. B. Membuat generalisasi bahwa masyarakat tidak tertarik pada energi hijau tanpa mempertimbangkan penurunan biaya produksi panel surya. C. Menyalahkan pemerintah atas lambatnya transisi menuju energi terbarukan di Indonesia. D. Menganggap bahwa bahan bakar fosil tidak lagi dibutuhkan dalam proses transisi energi. E. Memfokuskan argumen hanya pada potensi panas bumi dan energi hidro.
|
|
| SOAL 28 | |
|
Pasar di Ambang Subuh Asap tipis mengepul dari tungku bedang di sudut pasar. Mbok Sumi melipat apron kusamnya lalu mulai menata nampan-nampan bambu berisi getuk, cenil, dan tiwul yang dilapisi parutan kelapa gurih. Suara denting gamelan samar-samar terdengar dari radio FM tua milik seorang penjual jamu gendong di seberang lapaknya. Sebelum fajar menyingsing, para pembeli yang mengenakan kain jarik dan caping mulai berdatangan. Mereka menyapa Mbok Sumi dengan sebutan “Ngunduh rezeki, Mbok?” sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas lusuh. Udara dingin khas pedesaan di lereng gunung itu perlahan hangat oleh keriuhan transaksi tradisional yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Berdasarkan kosakata khas yang digunakan dalam teks di atas (getuk, tiwul, kain jarik, caping), fenomena latar sosial dan budaya yang digambarkan adalah…. A. Suasana perdagangan modern di kawasan perkotaan B. Kehidupan masyarakat tradisional di wilayah pedesaan Jawa C. Kegiatan festival kuliner Nusantara di gedung serbaguna D. Upacara adat keagamaan masyarakat pesisir pantai E. Pembuatan kerajinan tangan lokal di pusat cenderamata
|
|
| SOAL 29 | |
| Memori di Balik Layar Optik
Dr. Aris menatap panel holografik yang berkedip pelan di ruang laboratoriumnya. Di hadapannya, sistem AI bernama AURA-7 sedang memproses transfer ingatan dari pasien penderita Demensia. Teknologi ini dirancang untuk mengekstrak memori yang rusak dan menggantikannya dengan struktur ingatan buatan agar pasien bisa mengenali keluarganya kembali. “Proses sinkronisasi mencapai 92%, Dokter. Namun, kami menemukan anomali,” ujar AURA-7 dengan suara sintesis yang tenang. “Untuk menstabilkan fungsi kognitif pasien, sistem harus menghapus memori emosional spesifik selama sepuluh tahun terakhir. Termasuk memori kegagalan dan penyesalan masa lalunya.” Aris menggenggam stetoskop tuanya, benda analog terakhir yang masih ia simpan. Pasien di ruang sebelah adalah gurunya sendiri, sosok yang mengajarinya bahwa rasa sakit dan kegagalan masa lalu adalah alasan manusia terus belajar dan berkembang. Jika ingatan buruk itu dihapus, gurunya memang akan sembuh dan bahagia, tetapi ia tak lagi menjadi manusia yang sama. “Dokter Aris, konfirmasi penghapusan data memori tinggal menekan tombol biru. Pasien akan terbangun tanpa rasa cemas,” panggil AURA-7. Jemari Aris menggantung di atas tombol holografik, bergetar di antara kepastian medis dan keutuhan jiwa gurunya. Berdasarkan teks fiksi di atas, manakah pernyataan-pernyataan yang menggambarkan penyebab dilema batin Dr. Aris sebelum mengambil keputusan? (Pilihlah semua jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu) [ ] A. Keharusan mengorbankan memori emosional sepuluh tahun terakhir demi kestabilan kognitif pasien. [ ] B. Kekhawatiran bahwa teknologi sistem AI AURA-7 akan mengalami kegagalan total saat proses penghapusan data. [ ] C. Pandangan bahwa pengalaman pahit dan kegagalan merupakan bagian penting yang membentuk esensi identitas manusia. [ ] D. Pertentangan antara hasil medis yang menjanjikan kesembuhan dengan potensi hilangnya keutuhan kepribadian sang guru. [ ] E. Ketakutan bahwa sang guru tidak akan pernah bisa mengenali anggota keluarganya lagi setelah prosedur selesai.
|
|
| SOAL 30 | |
|
Warisan di Ujung Jalan Setiap menjelang musim panen, pendopo desa milik Mbah Jayus selalu riuh oleh tradisi Sambatan—gotong royong memperbaiki saluran irigasi dan menyiapkan alur distribusi beras secara bersama-sama. Tidak ada nominal uang yang bertukar; hanya ada mangkuk-mangkuk kolak, tawa riang, dan rasa saling percaya yang menjaga keutuhan warga desa selama bertahun-tahun. Namun, musim panen kali ini terasa berbeda. Bayu, cucu Mbah Jayus yang baru lulus sarjana dari kota, mengusulkan digitalisasi seluruh sistem komoditas desa melalui aplikasi perantara komersial. “Dengan platform ini, kita tidak perlu lagi kumpul-kumpul menyita waktu untuk membagi jatah air atau menentukan harga. Semua masuk database, dihitung algoritma, dan transaksi langsung terintegrasi ke dompet digital masing-masing. Efisien dan transparan,” papar Bayu di depan warga. Mbah Jayus hanya menatap cangkir tehnya yang mengepul. “Aplikasi itu memang cepat, Le. Tapi dia tidak punya mata untuk melihat tetangga yang sedang sakit, dan tidak punya tangan untuk menjenguk. Kalau semua diganti layar, esok lusa saat salurannya tumpat, warga tidak lagi turun ke parit bersama, melainkan saling menunjuk siapa yang paling rugi di aplikasi.” Berdasarkan peristiwa pada teks fiksi di atas, manakah pernyataan berikut yang paling tepat menggambarkan relevansi antara konflik Mbah Jayus dan Bayu dengan realitas kehidupan masyarakat sosial-budaya saat ini? A. Kehadiran teknologi digital selalu gagal diterapkan di daerah pedesaan karena penolakan dari kelompok generasi tua yang tertutup terhadap perubahan. B. Transisi menuju digitalisasi dalam interaksi sosial kerap meningkatkan efisiensi instrumental, tetapi berisiko mengikis kehangatan empati dan ikatan komunal masyarakat. C. Komunitas tradisional tidak lagi membutuhkan nilai-nilai gotong royong karena seluruh permasalahan ekonomi masyarakat modern telah diselesaikan oleh algoritma. D. Konflik antargenerasi di pedesaan umumnya dipicu oleh ketidakmampuan generasi muda dalam memahami cara kerja sektor pertanian tradisional. E. Penerapan aplikasi digital di masyarakat pedesaan terbukti menghilangkan potensi kerugian ekonomi dalam distribusi hasil pertanian secara total. |
|




